Minggu, 23 Februari 2014

Goresan Pena

                Assalamualaikum wr wb^_^

                  Hari ini panas terik menusuk ke sel epidermis ku yang tipis ini, siang ini kampus dipenuhi oleh gas karbon monoksida yang membahayakan kesehatan. ntah mengapa di negeri serambi ini di penuhi dengan kendaraan bermotor yang dulunya di dominasi oleh mobil angkutan umum (labi-labi) kini juga di penuhi oleh berjubel sepeda motor dari yang bersuara halus hingga bersuara tinggi, menyebalkan saat lewat diwaktu sibuk. Darussalam merupakan kota pelajar walaupun tidak bisa sepenuhnya di katakan seperti kota pelajar. Namun , dikarenakan daerah tersebut di apit oleh 2 universitas negeri diserambi mekkah ini. Maka di sebut-sebutlah kota pelajar, yang oleh universitasku dibuat lagu mars.
                Kali ini aku bertandang ke rumah kami yang haus akan ilmu, perpustakaan rumah bagi orang-orang rajin seperti kami yang dunianya selalu berhubungan dengan buku, laporan dan tugas. Laporan yang berjubel dalam waktu singkat yang harus di kumpul, tugas yang belum di pahami pun harus segera di nilai , di kuiskan dan penuh dengan apapun yang berhubungan dengan itu. Kadang berasa tidak bebas ketika menjalani kuliah yang rutinitasnya mirip SMA bahkan lebih parah lagi kalo misalnya hari minggu juga ikut-ikutan masuk ngampus.  Dirumahku nan megah ini , aku dikelilingi oleh lautan buku dan derasnya arus internet yang melayang-layang diudara.
                Aku duduk termangu sendirian di atas bangku kayu kasar dan meja panjang tak bertuan. Setelah mengerjakan laporan atau apapun yang berhubungan dengan kampus , aku mencari buku yang bisa di jadikan pencerahan di tengah ritual ini. Aku tertarik dengan buku-buku desain arsitektur yang begitu tebal namun memukau ketika dilihat, disentuh dan apalagi gambar-gambarnya membuat berhayal tinggi ke masa depan.
                Ku buka lembar demi lembar buku Desain interior, terselip asa yang kemudian membatin di kalbu. Aku ingin buat seperti ini. Aku ingin bahagiakan ibu dan adik ku. Aku seorang kakak yang harus bertanggung jawab atas ibu dan ke2 adik-adikku. Dan hari itu terjawab sudah bahwa yang membuat segalanya bertahan adalah Allah dan mereka.
                Jam pun tak hentinya berputar massa silam dulu terbersit dipelupuk mata. Aduhai kehidupan kau bagai aliran yang sulit di tebak. Teringat lah aku akan seorang bocah kecil yang dulunya seorang gadis kampung yang tinggal dipinggir kota yang dampai sekarang aku merantau ini sebagian besar tidak mengetahui keberadaan kota ku tempat yang aku tinggali sewaktu kecil. Waktu itu aku gadis kecil yang suka sekali bermain dengan orang dewasa ntah mungkin karna bawaan lahir atau tidak, itu mengapa kawan aku sebenarnya begitu kuat.
                Gadis itu, berdarah manis yang ketika apa pun yang melukai kulitnya maka akan membekas begitu pula dengan perasaan sensitifnya , ia pandai sekali membaca lingkungantapi sering kali diam karena ia  seorang anak yang tak bisa berkata lebih kasar karena ibunya yang mendidik dengan kelembutan ,  ingin sekali memiliki hati sejernih dirimu ibu. Waktu pun berosilasi begitu cepat aku tumbuh dewasa begitu cepat dan mengenal berbagai keadaan dilingkunganku. 
                Disini di kampus ini, aku menemukan sahabat , sahabat yang tak pernah kudapatkan getarannya seperti ini. sahabat-sahabat yang begitu mencintainNya.aku tertegun menatap diriku yang penuh debu yang belum terhapuskan tapi mereka perlahan mengusap dan membersihkannya sungguh , perasaan itu yang tak pernah di dapat ketika gadis kecil itu beranjak dewasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar